Minggu, 29 April 2012

SELAYANG PANDANG PERJALANAN PEMIKIRAN FILSAFAT ( Pada Dua Abad Terakhir )


SELAYANG PANDANG PERJALANAN
PEMIKIRAN FILSAFAT
( Pada Dua Abad Terakhir )
MAKALAH
Fakultas Tarbiyah Semester II STAINU Tangerang
Oleh :
Deden Fauzi
Hj Eli Aliya
Dosen Pengampu :
Sholihin Shobroni, MA


Description: Description: C:\Users\Owner\Downloads\Logo STAINU (BW).jpg
 





SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NAHDLATUL ULAMA
(STAINU AL – HASTA)
2012


KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi rabbail ‘alamiin, puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. Yang telah memberikan nikmat yang begitu besar, terutama nikmat iman, nikmat islam, nikmat umur panjang, dan nikmat sehat sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah Selayang Pandang Perjalanan Pemikiran Filsafat (Dari Awal Hingga Zaman Islam) dalam mata kuliah Filsafat Islam.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjunan kita, nabi besar Muhammad SAW. Kepada keluarganya, sahabatnya, tabi’it tabi’in dan sampai kepada kita semua selaku umatnya sampai  akhir zaman. Aamiiin.
Ilmu filsafat sendiri sangat penting untuk diselami lebih dalam. Pada dasarnya semua ilmu bertujuan untuk mencari sebuah jawaban dari sebuah permasalahan. Dengan adanya ilmu segala sesuatu akan lebih dapat dipahami.
Karya tulis ini penulis sadari jauh untuk dikatakan sempurna, untuk itu penulis berharap kritikan dan saran untuk perbaikan ke depan dan untuk menghasilkan karya tulis yang lebih baik lagi.
Mudah-mudahan dengan makalah ini dapat menambah wawasan kita dan menjadi ilmu yang bermanfaat. Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing Bpk Sholihin Shobroni, MA atas kesediaannya menjadi staff pengajar. Semoga rahmat Allah SWT tetap tercurah kepada kita semua.
Tangerang, 30 April 2012
                                      
       




BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.  

B. Rumusan Masalah
            Untuk menapaki ilmu filsafat secara utuh dengan tujuan mendapatkan pengajaran dan ilmu yang bermanfaat untuk bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat sehingga tidak salah arah, disini kita perlu mengetahui sejarah awal filsafat muncul dalam peradaban dunia, yaitu :
1.      Idealisme Objektif
2.      Positivisme
3.      Rasionalisme dan Empirisisme
4.      Materialisme Dialektika
5.      Pragmatisme

C. Tujuan
            Ada istilah yang sudah sering kita dengar yaitu tak kenal maka tak sayang. Istilah ini mengandung makna bahwa untuk bisa menyayangi sesuatu kita harus mengenalinya terlebih dahulu. Begitu pun dengan filsafat Islam ini agar tumbuh rasa cinta akan ilmu ini kita harus lebih dahulu mengetahui sejarah awal mula pemikiran filsafat ini tumbuh. Dengan mengetahui sejarah ilmu filsafat ini juga kita akan mempelajari ilmu filsafat Islam ini secara utuh.

D. Manfaat
            Setelah  mempelajari perjalanan pemikiran filsafat pada dua abad terakhir, maka akan tumbuh rasa cinta dengan ilmu filsafat Islam ini karena kita sudah mengenalinya dari sejarahnya. Apabila rasa cinta sudah tumbuh kita akan lebih bersemangat dan sungguh-sungguh dalam mempelajari ilmu filsafat Islam. Selain itu dengan mempelajari awal tumbuhnya filsafat kita mengetahui kesalahan yang dilakukan suatu kaum pada zaman tersebut dalam penerapan ilmu filsafat itu sendiri, sehingga kita tidak mengulangi kesalahan tersebut di masa kini.


BAB II
PEMBAHASAN

A.      IDEALISME OBJEKTIF
Seluruh sejarah filsafat dari jaman Yunani sampai hari ini tersusun atas pergulatan antara dua aliran pemikiran yang persis berseberangan - materialisme dan idealisme. Di sini kita mendapati satu contoh yang sempurna tentang bagaimana kedua istilah yang dipergunakan dalam filsafat ini berbeda makna secara hakiki dengan maknanya yang dipergunakan sehari-hari.
Ketika kita merujuk seseorang sebagai "idealis", kita biasanya berpikir tentang seseorang yang memiliki ideal-ideal yang tinggi dan moralitas yang tak bercacat. Seorang materialis, sebaliknya, dipandang sebagai seorang yang tidak punya prinsip, seorang pengeruk uang, seorang individualis yang hanya memikirkan diri sendiri, dengan nafsu serakah untuk makanan dan benda-benda duniawi lain - pendeknya, seorang yang sama sekali tidak menyenangkan.
Kedua pemaknaan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan materialisme dan idealisme di dunia filsafat. Dalam makna filosofis, idealisme memiliki akar dari pandangan bahwa dunia ini hanyalah cerminan dari ide, pikiran, roh atau, lebih tepatnya Ide, yang hadir sebelum segala dunia ini hadir. Benda-benda material kasar yang kita kenal melalui indera kita, menurut aliran ini, hanyalah salinan yang kurang sempurna dari Ide yang sempurna itu. Para pendukung filsafat ini yang paling konsisten sepanjang sejarah kuno adalah Plato. Walau demikian, ia bukan merupakan pencipta idealisme, yang telah lahir sebelum jamannya.

B.      POSITIVISME
Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris.
Sesungguhnya aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis sebagai suatu sarana untuk memperoleh pengetahuan (seperti yang diusung oleh kaum idealisme khususnya idealisme Jerman Klasik).
Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan. Terdapat tiga tahap dalam perkembangan positivisme, yaitu:
1. Tempat utama dalam positivisme pertama diberikan pada Sosiologi, walaupun perhatiannya juga diberikan pada teori pengetahuan yang diungkapkan oleh Comte dan tentang Logika yang dikemukakan oleh Mill. Tokoh-tokohnya Auguste Comte, E. Littre, P. Laffitte, JS. Mill dan Spencer.
2. Munculnya tahap kedua dalam positivisme – empirio-positivisme – berawal pada tahun 1870-1890-an dan berpautan dengan Mach dan Avenarius. Keduanya meninggalkan pengetahuan formal tentang obyek-obyek nyata obyektif, yang merupakan suatu ciri positivisme awal. Dalam Machisme, masalah-masalah pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang psikologisme ekstrim, yang bergabung dengan subyektivisme.
3. Perkembangan positivisme tahap terakhir berkaitan dengan lingkaran Wina dengan tokoh-tokohnya O.Neurath, Carnap, Schlick, Frank, dan lain-lain. Serta kelompok yang turut berpengaruh pada perkembangan tahap ketiga ini adalah Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin. Kedua kelompok ini menggabungkan sejumlah aliran seperti atomisme logis, positivisme logis, serta semantika. Pokok bahasan positivisme tahap ketiga ini diantaranya tentang bahasa, logika simbolis, struktur penyelidikan ilmiah dan lain-lain.

C.      RASIONALISME DAN EMPIRISISME
Rasionalisme adalah merupakan faham atau aliran atau ajaran yang berdasarkan ratio, ide-ide yang masuk akal.Selain itu, tidak ada sumber kebenaran yang hakiki.
Zaman Rasionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai akhir abad ke XVIII. Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk menemukan kebenaran.
Empirisme berasal dari kata Yunani yaitu "empiris" yang berarti pengalaman inderawi. Oleh karena itu empirisme dinisbatkan kepada faham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalanan dan yang dimaksudkan dengannya adalah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia. Pada dasarnya Empirisme sangat bertentangan dengan Rasionalisme. Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari ratio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. sebaliknya Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna.

D.     MATEARISME DIALETIKA
Materialisme adalah konsepsi filsafat Marxis, sedang dialektika adalah metode-nya. Kedua pernyataan tersebut dapat kita uraikan dalam tiga pokok pengertian: materialisme, dialektika dan historisitas. Melalui uraian atas pokok-pokok ini kita akan mengerti apa yang dimaksud sebagai “berpikir dengan pendekatan materialisme dialektis dan historis”.
Seperti kita ketahui secara umum, materialisme pada mulanya merupakan gugus pengertian bahwa materi (ikhwal indrawi) adalah hakikat dari realitas. Marx merubah pandangan umum ini. Baginya, materialisme macam itu hanya benar untuk materialisme klasik hingga abad ke-18. Dalam Tesis pertamanya tentang Feuerbach, Marx menunjukkan pengertian baru dari materialisme:
Kita juga tahu bukan Marx yang pertama kali berbicara mengenai dialektika. Sejak Platon, pemikiran filosofis senantiasa dicirikan dengan sifat dialektis. Sokrates, junjungan Platon, sendiri berfilsafat dengan dialektika, dengan dialog (ingat: asal kata Yunani dari dialektika adalah dialegesthai yang artinya “dialog”). Namun dari Hegel lah Marx menimba pelajaran mengenai dialektika. Pengandaian dasar dialektika Hegel adalah relasionalisme internal, yakni pengertian bahwa keseluruhan kenyataan, dipahami sebagai manifestasi-diri Roh, senantiasi terhubung satu sama lain dalam jejalin yang tak putus.

E.      PRAGMATISME
Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu.
Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan, di mana apa yang ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual, konkret, dan terpisah satu sama lain. Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja. Representasi realitas yang muncul di pikiran manusia selalu bersifat pribadi dan bukan merupakan fakta-fakta umum. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan. Dengan demikian, filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang bersifat metafisik, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan filsafat Barat di dalam sejarah.


BAB III
KESIMPULAN

Dengan sekilas pandangan atas perjalanan pemikiran filsafat ini. Selain mengenal sejarah singkat filsafat, kita juga jadi mengetahui bagaimana filsafat barat mengalami jatuh bangun dan menempuh jalan panjang yang demikian berkelok-kelok setelah masa Renaisans, dan terguncang oleh bebagai kontradiksi.
keadaan di atas sangat berbeda dengan ke adaan filsafat islam, yang selalu menapak jalan lurus nan kaya.
DAFTAR PUSTAKA
www.hendria.com/2010/04/materialisme-dan-idealisme.html
Ankersmit, F.R., Refleksi Tentang Sejarah : Pendapat-pendaat Modern tentang Filsafat Sejarah, Cet.1, Pt. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1987
Karl Marx, Theses On Feuerbach dalam Karl Marx dan Frederick Engels, Selected Works: Vol II (Moscow: Foreign Languages Publishing House), 1958, hlm. 403


Tidak ada komentar:

Posting Komentar