SELAYANG
PANDANG PERJALANAN
PEMIKIRAN
FILSAFAT
(
Pada Dua Abad Terakhir )
MAKALAH
Fakultas Tarbiyah Semester II
STAINU Tangerang
Oleh :
Deden Fauzi
Hj Eli Aliya
Dosen Pengampu :
Sholihin Shobroni,
MA
![]() |
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
NAHDLATUL ULAMA
(STAINU AL – HASTA)
2012
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi rabbail ‘alamiin, puji dan
syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. Yang telah memberikan nikmat
yang begitu besar, terutama nikmat iman, nikmat islam, nikmat umur panjang, dan
nikmat sehat sehingga penulis bisa menyelesaikan makalah Selayang Pandang
Perjalanan Pemikiran Filsafat (Dari Awal Hingga Zaman Islam) dalam mata kuliah
Filsafat Islam.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurah
kepada junjunan kita, nabi besar Muhammad SAW. Kepada keluarganya, sahabatnya,
tabi’it tabi’in dan sampai kepada kita semua selaku umatnya sampai akhir zaman. Aamiiin.
Ilmu filsafat sendiri sangat penting untuk
diselami lebih dalam. Pada dasarnya semua ilmu bertujuan untuk mencari sebuah
jawaban dari sebuah permasalahan. Dengan adanya ilmu segala sesuatu akan lebih
dapat dipahami.
Karya tulis ini penulis sadari jauh untuk
dikatakan sempurna, untuk itu penulis berharap kritikan dan saran untuk
perbaikan ke depan dan untuk menghasilkan karya tulis yang lebih baik lagi.
Mudah-mudahan dengan makalah ini dapat
menambah wawasan kita dan menjadi ilmu yang bermanfaat. Tidak lupa penulis
ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing Bpk Sholihin Shobroni, MA atas
kesediaannya menjadi staff pengajar. Semoga rahmat Allah SWT tetap tercurah
kepada kita semua.
Tangerang,
30 April 2012
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Filsafat adalah
pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai
kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap
seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam
dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.
B.
Rumusan Masalah
Untuk
menapaki ilmu filsafat secara utuh dengan tujuan mendapatkan pengajaran dan
ilmu yang bermanfaat untuk bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat
sehingga tidak salah arah, disini kita perlu mengetahui sejarah awal filsafat
muncul dalam peradaban dunia, yaitu :
1. Idealisme Objektif
2. Positivisme
3. Rasionalisme dan Empirisisme
4. Materialisme Dialektika
5. Pragmatisme
C. Tujuan
Ada
istilah yang sudah sering kita dengar yaitu tak kenal maka tak sayang. Istilah
ini mengandung makna bahwa untuk bisa menyayangi sesuatu kita harus
mengenalinya terlebih dahulu. Begitu pun dengan filsafat Islam ini agar tumbuh
rasa cinta akan ilmu ini kita harus lebih dahulu mengetahui sejarah awal mula
pemikiran filsafat ini tumbuh. Dengan mengetahui sejarah ilmu filsafat ini juga
kita akan mempelajari ilmu filsafat Islam ini secara utuh.
D.
Manfaat
Setelah mempelajari perjalanan pemikiran filsafat pada dua abad
terakhir, maka
akan tumbuh rasa cinta dengan ilmu filsafat Islam ini karena kita sudah
mengenalinya dari sejarahnya. Apabila rasa cinta sudah tumbuh kita akan lebih
bersemangat dan sungguh-sungguh dalam mempelajari ilmu filsafat Islam. Selain
itu dengan mempelajari awal tumbuhnya filsafat kita mengetahui kesalahan yang
dilakukan suatu kaum pada zaman tersebut dalam penerapan ilmu filsafat itu
sendiri, sehingga kita tidak mengulangi kesalahan tersebut di masa kini.
BAB II
PEMBAHASAN
A. IDEALISME OBJEKTIF
Seluruh sejarah filsafat dari jaman Yunani sampai hari ini tersusun atas
pergulatan antara dua aliran pemikiran yang persis berseberangan - materialisme
dan idealisme. Di sini kita mendapati satu contoh yang sempurna tentang
bagaimana kedua istilah yang dipergunakan dalam filsafat ini berbeda makna
secara hakiki dengan maknanya yang dipergunakan sehari-hari.
Ketika kita merujuk
seseorang sebagai "idealis", kita biasanya berpikir tentang seseorang
yang memiliki ideal-ideal yang tinggi dan moralitas yang tak bercacat. Seorang
materialis, sebaliknya, dipandang sebagai seorang yang tidak punya prinsip,
seorang pengeruk uang, seorang individualis yang hanya memikirkan diri sendiri,
dengan nafsu serakah untuk makanan dan benda-benda duniawi lain - pendeknya,
seorang yang sama sekali tidak menyenangkan.
Kedua pemaknaan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan materialisme dan idealisme di dunia filsafat. Dalam makna filosofis, idealisme memiliki akar dari pandangan bahwa dunia ini hanyalah cerminan dari ide, pikiran, roh atau, lebih tepatnya Ide, yang hadir sebelum segala dunia ini hadir. Benda-benda material kasar yang kita kenal melalui indera kita, menurut aliran ini, hanyalah salinan yang kurang sempurna dari Ide yang sempurna itu. Para pendukung filsafat ini yang paling konsisten sepanjang sejarah kuno adalah Plato. Walau demikian, ia bukan merupakan pencipta idealisme, yang telah lahir sebelum jamannya.
Kedua pemaknaan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan materialisme dan idealisme di dunia filsafat. Dalam makna filosofis, idealisme memiliki akar dari pandangan bahwa dunia ini hanyalah cerminan dari ide, pikiran, roh atau, lebih tepatnya Ide, yang hadir sebelum segala dunia ini hadir. Benda-benda material kasar yang kita kenal melalui indera kita, menurut aliran ini, hanyalah salinan yang kurang sempurna dari Ide yang sempurna itu. Para pendukung filsafat ini yang paling konsisten sepanjang sejarah kuno adalah Plato. Walau demikian, ia bukan merupakan pencipta idealisme, yang telah lahir sebelum jamannya.
B.
POSITIVISME
Positivisme
adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya
sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan
metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris.
Sesungguhnya aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis sebagai
suatu sarana untuk memperoleh pengetahuan (seperti yang diusung oleh kaum
idealisme khususnya idealisme Jerman Klasik).
Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu
sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan
pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat
menjadi pengetahuan. Terdapat tiga tahap dalam perkembangan positivisme, yaitu:
1. Tempat utama dalam positivisme pertama diberikan pada
Sosiologi, walaupun perhatiannya juga diberikan pada teori pengetahuan yang
diungkapkan oleh Comte dan tentang Logika yang dikemukakan oleh Mill.
Tokoh-tokohnya Auguste Comte, E. Littre, P. Laffitte, JS. Mill dan Spencer.
2. Munculnya tahap kedua dalam positivisme – empirio-positivisme –
berawal pada tahun 1870-1890-an dan berpautan dengan Mach dan Avenarius.
Keduanya meninggalkan pengetahuan formal tentang obyek-obyek nyata obyektif,
yang merupakan suatu ciri positivisme awal. Dalam Machisme, masalah-masalah
pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang psikologisme ekstrim, yang bergabung
dengan subyektivisme.
3. Perkembangan positivisme tahap terakhir berkaitan dengan
lingkaran Wina dengan tokoh-tokohnya O.Neurath, Carnap, Schlick, Frank, dan
lain-lain. Serta kelompok yang turut berpengaruh pada perkembangan tahap ketiga
ini adalah Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin. Kedua kelompok ini menggabungkan
sejumlah aliran seperti atomisme logis, positivisme logis, serta semantika.
Pokok bahasan positivisme tahap ketiga ini diantaranya tentang bahasa, logika
simbolis, struktur penyelidikan ilmiah dan lain-lain.
C.
RASIONALISME DAN EMPIRISISME
Rasionalisme
adalah merupakan faham atau aliran atau ajaran yang berdasarkan ratio, ide-ide
yang masuk akal.Selain itu, tidak ada sumber kebenaran yang hakiki.
Zaman Rasionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai akhir abad ke XVIII. Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk menemukan kebenaran.
Zaman Rasionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai akhir abad ke XVIII. Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk menemukan kebenaran.
Empirisme berasal dari kata Yunani
yaitu "empiris" yang berarti pengalaman inderawi. Oleh karena itu
empirisme dinisbatkan kepada faham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama
pengenalanan dan yang dimaksudkan dengannya adalah baik pengalaman lahiriah
yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi
manusia. Pada dasarnya Empirisme sangat bertentangan dengan Rasionalisme.
Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari ratio,
sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur.
sebaliknya Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman
sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan
sempurna.
D.
MATEARISME DIALETIKA
Materialisme
adalah konsepsi
filsafat Marxis, sedang dialektika adalah metode-nya.
Kedua pernyataan tersebut dapat kita uraikan dalam tiga pokok pengertian:
materialisme, dialektika dan historisitas. Melalui uraian atas pokok-pokok ini
kita akan mengerti apa yang dimaksud sebagai “berpikir dengan pendekatan
materialisme dialektis dan historis”.
Seperti kita ketahui secara umum, materialisme pada mulanya
merupakan gugus pengertian bahwa materi (ikhwal indrawi) adalah hakikat dari
realitas. Marx merubah pandangan umum ini. Baginya, materialisme macam itu
hanya benar untuk materialisme klasik hingga abad ke-18. Dalam Tesis pertamanya
tentang Feuerbach, Marx menunjukkan pengertian baru dari materialisme:
Kita juga tahu bukan Marx yang pertama kali berbicara mengenai
dialektika. Sejak Platon, pemikiran filosofis senantiasa dicirikan dengan sifat
dialektis. Sokrates, junjungan Platon, sendiri berfilsafat dengan dialektika,
dengan dialog (ingat: asal kata Yunani dari dialektika adalah dialegesthai yang
artinya “dialog”). Namun dari Hegel lah Marx menimba pelajaran mengenai
dialektika. Pengandaian dasar dialektika Hegel adalah relasionalisme
internal, yakni pengertian bahwa keseluruhan kenyataan, dipahami
sebagai manifestasi-diri Roh, senantiasi terhubung satu sama lain dalam jejalin
yang tak putus.
E.
PRAGMATISME
Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa
yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan
melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis.
Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting
melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu.
Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan, di mana apa yang
ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual,
konkret, dan terpisah satu sama lain. Dunia ditampilkan apa adanya dan
perbedaan diterima begitu saja. Representasi realitas yang muncul di pikiran
manusia selalu bersifat pribadi dan bukan merupakan fakta-fakta umum. Ide
menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan. Dengan demikian,
filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar
kebenaran, terlebih yang bersifat metafisik, sebagaimana yang dilakukan oleh
kebanyakan filsafat Barat di dalam sejarah.
BAB III
KESIMPULAN
Dengan sekilas
pandangan atas perjalanan pemikiran filsafat ini. Selain mengenal sejarah
singkat filsafat, kita juga jadi mengetahui bagaimana filsafat barat mengalami jatuh
bangun dan menempuh jalan panjang yang demikian berkelok-kelok setelah masa
Renaisans, dan terguncang oleh bebagai kontradiksi.
keadaan di atas sangat
berbeda dengan ke adaan filsafat islam, yang selalu menapak jalan lurus nan
kaya.
DAFTAR PUSTAKA
www.hendria.com/2010/04/materialisme-dan-idealisme.html
Ankersmit,
F.R., Refleksi
Tentang Sejarah : Pendapat-pendaat Modern tentang Filsafat Sejarah,
Cet.1, Pt. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1987Karl Marx, Theses On Feuerbach dalam Karl Marx dan Frederick Engels, Selected Works: Vol II (Moscow: Foreign Languages Publishing House), 1958, hlm. 403
